Jakarta (KABARIN) - Beberapa ahli menjelaskan alasan makan pasta yang sudah disimpan semalaman bisa menimbulkan dampak yang lebih baik pada kondisi kadar gula dalam darah dibandingkan dengan pasta yang baru dimasak.
Sebagaimana dikutip dalam artikel New York Post pada Rabu (14/1), ahli gizi menyampaikan bahwa proses pendinginan dan pemanasan ulang pasta dapat mengubah sebagian pati dalam pasta menjadi pati resisten yang lebih sulit dicerna tubuh.
"Ketika pasta dimasak, didinginkan, lalu dipanaskan kembali, sebagian pati yang mudah dicerna berubah menjadi pati resisten," kata ahli gizi dari North Carolina, Ashley Kitchens, kepada Fox News Digital.
Karena pati resisten lebih sulit dicerna, ia melanjutkan, maka akan lebih sedikit gula yang masuk ke aliran darah.
Ia menjelaskan pula bahwa pati resisten bekerja menyerupai serat, menjadi sumber nutrisi bagi bakteri baik di usus karena tidak bisa dicerna dengan cepat.
Pati resisten terbentuk melalui proses yang disebut retrogradasi.
Saat pasta dimasak, pati mengalami gelatinisasi dan menjadi mudah dicerna. Setelah disimpan di lemari es selama sekitar 24 jam, sebagian pati berubah struktur sehingga tidak dapat sepenuhnya dipecah oleh tubuh.
Akibatnya, menurut ahli gizi dari The Ohio State University Wexner Medical Center, pasta yang didinginkan dan dipanaskan kembali menghasilkan kalori yang lebih sedikit dan memicu kenaikan gula darah yang lebih rendah setelah dimakan.
Penelitian dari Universitas Surrey di Inggris juga menunjukkan penurunan kadar gula darah dan respons insulin setelah mengonsumsi pasta yang telah dimasak, didinginkan, dan dipanaskan kembali dibandingkan dengan pasta yang baru dimasak, terutama jika dimasak al dente.
Associate Professor University of South Florida College of Public Health Lauri Wright menekankan bahwa efek mengonsumsi pasta yang telah dimasak, didinginkan, dan dipanaskan kembali tidak bersifat mutlak, dan bisa berbeda pada setiap orang.
"Ini dapat sedikit mengurangi atau menggeser peningkatan glukosa, tetapi tidak membuat pasta ‘bebas’ dari sudut pandang gula darah," kata Wright kepada Fox News Digital.
Bagi penderita diabetes, ia menjelaskan, pati resisten dapat membantu mengurangi lonjakan gula darah, tetapi juga dapat mengubah seberapa cepat glukosa masuk ke aliran darah, yang dapat memengaruhi waktu kerja insulin.
Para ahli juga menekankan pentingnya pengaturan porsi makan dalam upaya menekan lonjakan gula darah.
"Hanya sebagian dari pati yang menjadi resisten," kata Kitchens.
"Jika Anda mengonsumsi pasta dalam porsi besar, trik ini mungkin tidak terlalu bermanfaat," ia menambahkan.
Para ahli sepakat bahwa memanaskan kembali pasta dapat memberikan sedikit keuntungan metabolisme, tetapi mengonsumsi makanan secara seimbang, asupan serat, dan pengendalian porsi tetap yang terpenting.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026